jump to navigation

Ini Indonesia! Agustus 17, 2007

Posted by Michael Andreas in Ego.
23 comments

Foto oleh Aaron P

Heran ya, akhir-akhir ini banyak kontroversi perihal Indonesia Raya. Ah sudahlah, tidak usah dibahas disini, aku rujuk saja kalian pada Sandy, Ryo, Momon, dan Priyadi yang sudah membahasnya. Syukur keadaan sudah mulai sejuk seminggu terakhir.

Sejauh yang aku tahu, Indonesia Raya-ku hanya satu:

Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru “Indonesia bersatu”

Hiduplah tanahku hiduplah neg’riku
Bangsaku rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya merdeka merdeka
Tanahku negeriku yang kucinta
Indonesia Raya merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Ini lagu kebangsaanku. Ini identitasku. Ini bangsaku. Ini tanah airku. Ini.. Indonesia!

Everything right is wrong again April 2, 2007

Posted by Michael Andreas in Ego.
add a comment

Many different people are pushing you for action right now, and it might be in your best interest to make them happy. They are not as concerned with the quality of your work as they are with simply seeing you do something right away, so there’s no reason to put any pressure on yourself. There is no wrong answer here — any efforts you make will be appreciated. This is a win-win situation for you, so let go of the tension you may be feeling. Just go for it!

Aku selalu bertanya-tanya, apakah sebuah jawaban selalu benar? Apakah pilihan yang kita buat dapat dinilai secara absolut? Atau mungkin, sikap dan tindakan kita yang menentukan hasil akhirnya?

Telur sudah matang Januari 12, 2007

Posted by Michael Andreas in Ego.
4 comments

Selamat untuk Oktoria Yulius Darmawan yang sudah melewati ujian tugas akhir! Nilai plus kuberikan untuk tanggapan pada dialog berikut (D = dosen penguji, M = Mawan).

D: Mengapa Anda bisa menyimpulkan teori demikian? Mengapa bisa seperti itu? Bagaimana ceritanya?

M: Begini, pak. Pada suatu hari…

Brilian. Walaupun mungkin kalau Brom pada film Eragon melihat sidang Mawan, dengan khasnya ia akan berkata “one part brave, three parts fool.” Hueheuh, bercanda Maw!

Plang ruang ujianPersiapan ujianThe Demo

Foto-foto lainnya bisa dilihat pada http://www.flickr.com/photos/bluefooz/.

Ucapan selamat untuk Ade Kusuma Januari 10, 2007

Posted by Michael Andreas in Ego.
4 comments

Ade sedang menerawang

Gitu aja kok repot“, demikian kata-kata terkenal yang kerap keluar dari seorang Ade “Gembel” Kusuma, S.Kom. Apaaa?? S.Kom?? Ya, saudara-saudara, kalian membaca benar! Selamat untuk Ade yang siang kemarin telah lulus ujian tugas akhir, atau lazim juga dikenal sebagai “pendadaran”. Selamat ya De! Kami semua turut senang. 😀

Tahun 2007 diprediksikan akan menjadi tahun yang indah untuk Ade. Sebelumnya, di awal tahun, Ade telah sukses naik level menjadi moderator pada milis IKUGaMa02 (milis semi tertutup untuk keluarga besar Ilmu Komputer UGM angkatan 2002). Tentu saja, ini sejalan dengan plot rahasia tim BABE untuk mentransformasi milis IKUGaMa02 ke bentuk forum. Sebuah forum dengan kolom reguler seperti IJFS, dilengkapi dengan link MP3 bajakan dan koleksi film biru à la Kaskus, dijalankan di atas vBulletin versi 3.6.4, lengkap dengan home-made Ajax plugin buatan dalam negeri.

Setelah sukses menjadi moderator dan lulus pendadaran, entah gebrakan besar apa lagi yang akan dilakukan Ade selanjutnya. Menurut selentingan kabar burung, Ade hendak memfokuskan diri pada perusahaan berinisial RTM (Radio Televisyen Malaysia? Mungkin Rydex S&P Equal Weight Matl? Atau…?). Berbagai kesempatan dan tawaran yang menggiurkan menggoda Ade untuk membina kembali usaha yang sempat jatuh bangun ini. Kemungkinan Ade akan memimpin proyek besar pertamanya dalam waktu beberapa bulan mendatang. Proyek yang berhubungan dengan wi-fi ini dikabarkan mengadopsi core technology dari penelitian skripsi yang telah dilakukan Ade.

Ada juga gosip yang mengatakan bahwa Ade hendak direkrut Persija Jakarta untuk bersanding dengan Javier Rocha. Ada juga yang mengatakan Ade akan segera married (gak salah nih?). Yang terakhir ini -walaupun kemungkinan besar hanya omong kosong- sepertinya bisa dijadikan motivasi bagus untuk langkah berikut De: mencari pasangan yang segera bisa didayagunakan sebagai pendamping wisuda. Hueheuh. Well, apapun yang mungkin terjadi di masa depan, kami doakan semua yang terbaik untukmu, teman! (Amin..)

[Editor’s Note]: Selain fakta bahwa Ade lulus ujian, jangan harap bahwa semua kabar disini benar adanya.

Standardisasi ukuran iklan (online) Januari 7, 2007

Posted by Michael Andreas in Ego, ICT.
10 comments

Cercaan halus seorang teman yang ditujukan kepada sebuah media online membuat otak karatan saya sedikit bergerak. Cukup jelas bahwa pesan yang hendak disampaikan adalah desain tampilan yang tidak nyaman untuk dibaca dan janggal secara estetika. Sebabnya menurut saya?

  1. Jumlah iklan yang melebihi jumlah pemain lapangan dalam 1 tim sepakbola (ini fakta).
  2. Penempatan iklan yang lebih acak daripada noise pada sebuah sinyal (ini hiperbola).
  3. Variasi ukuran iklan (ini serius).

Terkait dengan nomor 1, sedikit browsing kesana-sini mengungkapkan kenyataan pahit. Isu ini tidak hanya terjadi pada 1-2 situs web nasional saja. Dari 3 situs yang saya amati sepintas, Antara News untuk sementara memimpin dengan 20 spot iklan. detikcom terpaksa puas dengan posisi runner-up, terima kasih kepada jumlah iklan yang hanya minus 1 dari Antara News; 19. KCM berada di posisi juru kunci dengan 15 spot iklan. Saya yakin dengan browsing lebih lanjut saya bisa menemukan situs web dengan jumlah iklan yang lebih banyak, tapi dengan range 15-20 yang ada, apakah ini kurang banyak? Yang menakutkan, walaupun saya rasa belum pernah terjadi, situs-situs ini dapat menaikkan/menurunkan jumlah iklan mereka sewaktu-waktu. Oya, harap dicatat bahwa statistik ini tidak resmi, hanya penghitungan manual berdasarkan pengamatan sepintas.

Fokus saya disini adalah perihal variasi ukuran iklan. Walaupun ukuran iklan yang dipasang adalah hak pemilik situs, tapi kalau se-gak-konsisten gini, repot dong? Siapa yang repot? Nah itu dia! Siapa juga yang care sama isu seperti ini. Situsku ya situsku, dan yang mau pasang iklan, ikuti aturanku. Bah, bullshit! (Maaf agak emosi.) Okay, kembali ke Vaio (halah). Beberapa bentuk iklan juga lucu, misalnya persegi panjang yang lebih tipis dan panjang dari iklan biasanya. Mungkin ini untuk mengakomodir desain, ya? Semisal saya adalah desainer pada perusahaan R, dan R ingin memasang iklan pada salah satu situs yang telah disinggung di atas, mungkin seperti ini pembicaraan yang akan terjadi dengan manajer saya (D = desainer, M = manajer):

M: Hai kau desainer yang suka mangkir, cepat buatkan aku iklan untuk dipasang di KCM. Deadline, siang ini.
D: Lah bos yang suka merayu sekretarisnya, kenapa kita gak pakai ulang iklan yang di detikcom kemarin?
M: Konsepnya bisa, tapi ukurannya beda. Di KCM kita dapat spot sebesar 180 x 150 pixel. Sedangkan yang kau buat untuk detikcom kemarin itu 125 x 125 pixel.
D: Di-resize aja gimana, gampang kan? Atau gak dibiarin 125 x 125 pixel aja biar ada canvas putihnya nongol, keren bos sekarang lagi ngetren yang kayak gitu.
M: (Desainer bodoh, kok aku terima kerja disini ya?) Tidak bisa. Kredibilitas perusahaan, bung! Sekarang, cepat buat..
D: Argh… (Menghela nafas, balik badan, dan langsung masuk ruangan.)

Hal seperti ini membuat saya bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah hidup bisa menjadi (sedikit) lebih mudah bagi pihak media beriklan (baca: publisher) dan pihak pemasang iklan (baca: marketer)? Kalau tergantung saya sih, jawabannya; bisa. Standardisasi adalah kata kuncinya. Kalau kita mau melihat the big picture, ada reward yang jelas bisa didapat dari standardisasi iklan. Percakapan antara desainer dan manajer seperti di atas tidak perlu terjadi. Marketer dapat menggunakan materi yang sama untuk beberapa publisher. Pengurangan cost dalam proses kreasi dan pemasangan iklan. Desainer tidak perlu lembur lagi dan dimarahin pacarnya. Lebih serius lagi, iklan akan menjadi lebih berharga dan efektif.

Apakah ini mimpi? Ya, tentu saja (sarkasme)! Jangankan standar untuk iklan, dari rentetan kecelakaan di penghujung tahun 2006 dan awal 2007 bisa kita lihat bahwa standar keselamatan di negara ini masih memprihatinkan. Tapi itu pembicaraan untuk lain subyek, lain waktu. Kembali ke mimpi, bahkan mimpi pun punya hak untuk hidup. Masih boleh, kita mengharap media-media online diprovokasi oleh sebuah tim independen akan berembuk dan berkompromi tentang standar iklan tersebut.

Links: